MUSI BANYUASIN, SUMSEL, 24detik.id – Upaya pelarian dramatis seorang bandar narkoba di wilayah Musi Banyuasin berinisial AI (alias Iron/Ijon) berakhir tragis.
AI tewas tenggelam di sungai setelah nekat melompat ke air saat mencoba melarikan diri dari kepungan aparat kepolisian di Desa Lumpatan, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin.
Aksi bak film laga ini terjadi setelah Unit 4 Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Sumsel melakukan pengembangan kasus. Sebelumnya, polisi lebih dulu meringkus dua kurir berinisial Jun dan Lin di Desa Lais dengan barang bukti sabu seberat 102 gram senilai Rp50 juta.
Detik-detik Pengejaran yang Mencekam
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Yulian Perdana SIK MH, saat menggelar konferensi pers menjelaskan bahwa, setelah mengetahui posisi AI, kemudian langsung melakukan pengejaran.
“Saat dilakukan penggerebekan, AI yang panik mencoba melarikan diri menggunakan mobil. Saat terdesak, ia nekat keluar dari kendaraan, membuka baju, dan melompat ke sungai berarus deras sambil tetap menggenggam smartphone,” ujarnya kepada awak media, Selasa (23/6/26).
Lebih lanjut, meski sempat diteriaki oleh petugas kepolisian untuk menyerah, AI terus berenang ke tengah, kemudian diduga kelelahan dan terseret arus bawah sungai yang cukup deras.l, AI kemudian tenggelam.
“Setelah pencarian intensif selama beberapa jam oleh tim gabungan Polda Sumsel, Polres Banyuasin, dan BPBD Muba, jasad AI akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa,” ungkapnya.
Senjata Api Mematikan di TKP
Masih kata Kombes Yulian, Selain menelusuri jejak digital sang bandar, pihaknya juga menemukan temuan mencengangkan di lokasi kejadian.
“Tim kita juga menemukan serta mengamankan satu pucuk senjata api rakitan (senpira) jenis revolver yang telah dimodifikasi secara khusus,” jelasnya.
Menurut Kombes Yulian, senjata api tersebut dirancang untuk menembakkan peluru kaliber 5,56 mm, amunisi standar senjata laras panjang yang memiliki daya rusak sangat tinggi.
Situasi Kritis: Polda Sumsel Ajak Warga Bersatu
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Yulian Perdana, S.I.K., M.H., juga menegaskan bahwa, insiden ini merupakan potret betapa bahayanya peredaran narkoba di wilayah Sumsel yang kini menduduki peringkat kedua prevalensi tertinggi di Indonesia.
Menurut Kombes Yulian, para bandar kini semakin berani memanfaatkan keramaian, seperti hajatan atau hiburan organ tunggal di wilayah perkebunan dan pertambangan sebagai kedok peredaran barang haram.
“Penindakan tidak bisa hanya dilakukan oleh kepolisian. Kami memohon kerja sama seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat desa hingga tokoh informal, untuk aktif memberikan informasi. Ini adalah perang bersama melawan narkoba,” pungkas Alumni Akpol 2000 tersebut.










