Hilirisasi Riset, Dua Peneliti UMI Lolos Program Bestari Saintek Kemendiktisaintek. Prof Hambali: Solusi Nyata Bagi Masyarakat 

Berita, Bisnis, Nasional67 Dilihat

Jakarta, 24detik id — Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu garda terdepan perguruan tinggi di Indonesia Timur yang mampu menyelaraskan keunggulan akademik dengan implementasi solusi praktis bagi persoalan di masyarakat. 

Prestasi gemilang ini diraih melalui keberhasilan dua peneliti senior UMI yang dinyatakan lolos dalam Program Bestari Saintek periode 2025–2026, sebuah inisiatif prestisius yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Momentum bersejarah tersebut dikukuhkan melalui kehadiran langsung jajaran pimpinan UMI dalam kegiatan “Kick-Off” Program Bestari Saintek sekaligus penandatanganan kontrak program yang berlangsung di Auditorium Grha Diktisaintek, Jakarta, pada Rabu (29/4/2026).

Rektor UMI, Prof. Hambali, dalam keterangannya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Kemendiktisaintek atas kepercayaan yang diberikan serta dukungan nyata terhadap pengembangan riset yang berdampak luas.

“Keberhasilan ini menjadi bukti otentik bahwa transformasi riset di lingkungan UMI telah bergeser dari sekadar luaran akademik atau publikasi ilmiah menuju tahap hilirisasi yang menyentuh kebutuhan langsung warga,” ujar Prof. Hambali, Kamis (30/4/26).

Ia menegaskan bahwa UMI terus mendorong transformasi riset dari sekadar luaran akademik menuju hilirisasi dan implementasi yang memberi manfaat langsung.

“UMI tidak ingin hanya menghasilkan publikasi, tetapi menghadirkan inovasi yang bisa dirasakan masyarakat. Di sinilah makna riset yang sesungguhnya,” tambahnya.

UMI berkomitmen penuh untuk mendorong setiap inovasi agar tidak berhenti di ruang laboratorium, melainkan harus hadir sebagai jawaban atas tantangan zaman, selaras dengan semangat kampus yang menjunjung tinggi nilai perjuangan dan pengabdian demi kesejahteraan masyarakat luas.

Dua inovasi utama yang berhasil memperoleh pendanaan nasional ini mencakup bidang arsitektur dan pertanian dengan fokus pada ketahanan lingkungan serta pangan.

Inovasi pertama adalah sistem rumah panggung adaptif (lift house) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Naidah Naing, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng, di mana penelitian ini menawarkan solusi cerdas berbasis kearifan lokal untuk mengatasi banjir di wilayah pesisir, khususnya di Kelurahan Salomenraleng, Kabupaten Wajo.

Sementara itu, di sektor ketahanan pangan, Prof. Dr. Ir. Hj. Aminah Muchdar, M.P., memimpin riset rekayasa genetik kedelai tahan kekeringan yang bekerja sama dengan petani di Kabupaten Maros.

Inovasi ini menjadi langkah strategis nasional dalam menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman perubahan iklim global yang semakin tidak menentu.

Keberhasilan para peneliti UMI ini sejalan dengan visi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., yang menekankan pentingnya menjembatani kesenjangan antara penemuan laboratorium dengan kebutuhan industri dan publik.

Program Bestari Saintek sendiri dirancang sebagai living lab yang melibatkan kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, hingga organisasi internasional.

Dengan terpilihnya UMI di antara 64 perguruan tinggi nasional lainnya, institusi ini semakin memperkokoh posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem riset yang adaptif dan kolaboratif, sekaligus membuktikan bahwa UMI adalah kampus yang bereputasi internasional namun tetap membumi dalam memberikan dampak positif bagi bangsa.