Singkong Naik Kelas, Berkat Sentuhan dan Inovasi PHE Jambi Merang

Berita, Bisnis, Kuliner80 Dilihat

Musi Banyuasin, 24detik.id – Harum aroma cuko pempek dan manisnya cendol dawet mulai menyeruak dari dapur-dapur warga Desa Simpang Bayat sesaat sebelum azan Magrib berkumandang.

Namun, ada yang berbeda dari sajian berbuka kali ini. Teksturnya lebih ringan, lebih renyah, dan yang pasti: lebih sehat.

Rahasianya ada pada seplastik tepung putih bernama Mocaf (Modified Cassava Flour).

Produk ini bukan sekadar tepung biasa, melainkan simbol kemandirian ekonomi hasil tangan dingin Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi di bawah binaan PHE Jambi Merang.

Dari Rp 2.000 Jadi Produk Premium

Dahulu, singkong di Dusun Selaro hanya dihargai Rp 2.000 per kilogram—angka yang jauh dari cukup untuk menopang dapur warga. Namun, melalui program pemberdayaan Community Involvement & Development (CID) dari PHE Jambi Merang, komoditas rendah hati ini “naik kelas”.

“Dulu kami ragu, apa iya rasanya seenak terigu? Ternyata malah lebih ringan dan enak,” ujar Riyanti (45), anggota KWT Embun Pagi, saat di konfirmasi 24detik, Minggu (1/3/26).

Kini, setelah melalui proses fermentasi dan standarisasi yang ketat, satu kilogram tepung Mocaf mereka dibanderol seharga Rp 34.000. Kenaikan nilai tambah yang fantastis ini menjadi napas baru bagi ekonomi keluarga di Simpang Bayat.

Solusi Sehat di Bulan Ramadan

Memasuki bulan suci, permintaan akan bahan pangan berbasis tepung melonjak tajam. Mocaf hadir sebagai alternatif super: bebas gluten (gluten-free) dan lebih mudah dicerna oleh lambung yang kosong seharian.

Fleksibilitasnya pun luar biasa. Di tangan para ibu KWT Embun Pagi, Mocaf disulap menjadi:

– Takjil Gurih: Bakwan dan pisang goreng yang ekstra renyah.

– Hidangan Manis: Brownies kukus, bolu pandan, hingga kue lapis.

– Persiapan Lebaran: Nastar, kastengel, dan putri salju yang teksturnya tak kalah lembut dari gandum.

Misi Kemandirian Pangan Lokal

PHE Jambi Merang tidak hanya berhenti di tahap produksi. Mereka membawa “Emas Putih” dari Simpang Bayat ini ke panggung yang lebih luas, seperti Sriwijaya Expo, guna memperkenalkan manfaat Mocaf kepada masyarakat Sumatera Selatan.

Manager CID Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi besar mengurangi ketergantungan pada gandum impor.

“Program ini kami rancang agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan. Ini bukan hanya soal mengolah singkong, tapi soal memberi kesempatan bagi ibu rumah tangga untuk berdaya dan menciptakan kemandirian pangan lokal,” jelas Iwan.

Di bulan penuh berkah ini, semangkuk cendol Mocaf yang kenyal bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan bukti nyata bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan inovasi dan pendampingan yang tepat, mampu mengubah nasib sebuah desa.