PALEMBANG, 24detik.id – Di bawah komando Kapolda Sumsel, Irjen Pol Sandi Nugroho, sebuah manuver besar-besaran tengah dilakukan untuk menyapu bersih segala bentuk praktik ilegal yang selama ini “beranak-pinak” di Bumi Sriwijaya.
Namun, di tengah gembar-gembor penegakan hukum, muncul satu pertanyaan besar yang menghantui publik: Apakah ini benar-benar revolusi pembersihan, atau sang Jenderal sedang menuju “batu karang” yang siap menghancurkan kredibilitasnya?
Ketika “Bekingan” Menjadi Tembok Tebal
Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa praktik ilegal di Sumsel mulai dari tambang tanpa izin hingga distribusi BBM gelap telah lama beroperasi dengan kenyamanan yang luar biasa.
Kelancaran ini bukan karena kepiawaian para pelaku semata, melainkan karena adanya “payung pelindung” yang sangat kuat.
Isu yang santer beredar adalah keterlibatan oknum aparat, baik dari oknum Polri maupun oknum TNI, yang diduga kuat menjadi “bekingan” utama.
Selama bertahun-tahun, penegakan hukum di lapangan sering kali dirasakan masyarakat hanya sebagai seremonial belaka.
Menanggapi hal tersebut, Aktivis Senior sekaligus Ketua Koordinasi Masyarakat Anti Korupsi (K-MAKI), Feri Kurniawan, memberikan pandangan tajamnya.
Menurutnya, ketegasan Kapolda harus dibuktikan dengan menyentuh akar permasalahan, bukan sekadar di permukaan.
“Kami sangat mengapresiasi jika Kapolda benar-benar ingin bersih-bersih. Namun, harus diingat, gurita ilegal di Sumsel ini memiliki kaki yang kuat dan tertanam dalam,” ujarnya kepada 24detik, Rabu (10/6/26).
Menurutnya, tantangan bagi Irjen Pol Sandi Nugroho adalah membuktikan bahwa hukum tidak tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
“Jika hanya pelaku lapangan yang ditindak sementara bos besarnya aman, maka itu bukan penegakan hukum, melainkan hanya pembersihan lahan untuk pemain baru,” tegas Feri Kurniawan.
Ujian Integritas Sang Jenderal
Pernyataan tersebut adalah tantangan terbesar bagi Irjen Pol Sandi Nugroho. Publik saat ini sedang melakukan wait and see.
Apakah narasi “pembersihan” ini akan mampu menembus tembok bekingan yang selama ini dianggap tak tergoyahkan, ataukah langkah sang Kapolda justru akan terhenti karena membentur “batu karang” kepentingan di tingkat atas?
Jika operasi ini hanya menyasar pemain kecil, maka masyarakat akan kembali kecewa dan menganggap hukum hanyalah alat untuk meredam kegaduhan sesaat.
Namun, jika Irjen Pol Sandi Nugroho benar-benar mampu menyeret para aktor intelektual ke kursi pesakitan, maka inilah momentum emas untuk mengembalikan wajah hukum yang bersih dan berwibawa di Sumatera Selatan.
Mata Publik Terjaga
Sumsel sedang mengamati. Setiap pergerakan di lapangan akan menjadi bukti apakah ini adalah awal dari kehancuran kerajaan ilegal, atau sekadar drama penegakan hukum yang akan segera terlupakan.
Mampukah Peraih Adhi Makayasa Akpol 95 menuntaskan janji ini, ataukah dirinya akan terpaksa mundur karena tekanan sistem yang telah lama mengakar?
Ikuti terus laporan investigasi eksklusif 24detik.id mengenai perkembangan operasi pembersihan di berbagai sektor ilegal di Sumatera Selatan.
