Dibalik Megahnya Industri Batu Bara, Siapkah Sumsel Berpindah ke Energi Terbarukan?

PALEMBANG, 24detik.id – Cukup menarik! Di tengah kepungan industri batu bara yang menjadi urat nadi ekonomi Sumatra Selatan, sebuah perdebatan besar tengah mencuat. Satu pertanyaan yang akan membuat mata publik terbuka, mampukah daerah ini melakukan transisi menuju energi bersih tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat?

Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Cerah bersama AJI Palembang mengumpulkan para jurnalis pilihan dalam sebuah lokakarya intensif di Hotel Aston Palembang, Kamis (18/6/2026).

Acara bertajuk “Masa Depan Sumatra Selatan dan Transisi Energi Berkeadilan” ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan langkah krusial untuk membekali jurnalis agar mampu mengawal isu transisi energi agar tidak hanya menjadi sekadar jargon, tapi berpihak pada keadilan bagi masyarakat.

Tumpang Tindih Kebijakan Menjadi “Bom Waktu”

Dunia transisi energi memang tidak semulus yang dibayangkan. Sylvi Sabrina dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) membongkar fakta mengejutkan di lapangan: adanya tumpang tindih kebijakan antara kementerian hingga pemerintah daerah.

“Banyak aturan yang tidak sinkron. Kurangnya sosialisasi membuat transisi energi justru menjadi misteri bagi publik,” ungkap Sylvi dihadapan para jurnalis, Kamis (18/6/26).

Di sinilah peran jurnalis diuji: menjadi jembatan yang mampu menerjemahkan kekacauan kebijakan tersebut menjadi informasi yang mudah dicerna masyarakat.

Dwiki Mahendra dari Yayasan Cerah menegaskan bahwa peran jurnalis sangat vital. Transisi energi bukan cuma urusan angka, tapi tentang hajat hidup orang banyak.

Mantan Ketua AJI Palembang sekaligus Jurnalis RMOL Sumsel, Fajar Wiko, memberikan resep rahasia kepada peserta lokakarya, Kamis (18/6/26).Fhoto: Istimewa
Mantan Ketua AJI Palembang sekaligus Jurnalis RMOL Sumsel, Fajar Wiko, memberikan resep rahasia kepada peserta lokakarya, Kamis (18/6/26).
Fhoto: Istimewa

Senada dengan itu, mantan Ketua AJI Palembang sekaligus Jurnalis RMOL Sumsel, Fajar Wiko, memberikan resep rahasia kepada peserta lokakarya.

“Tantangan terbesar kita adalah menyederhanakan bahasa teknis yang rumit. Jangan sampai liputan kita malah memancing penolakan dari pihak pabrik atau masyarakat,” ujar Wiko.

Ia menekankan bahwa jurnalis harus cerdas meracik tulisan agar pembaca tidak hanya sekadar tahu, tetapi peduli pada urgensi energi terbarukan.

Sejumlah jurnalis di Provinsi Sumsel mengikuti lokakarya yang diadakan di Hotel Aston Palembang, Kamis (18/6/2026).Fhoto: Istimewa
Sejumlah jurnalis di Provinsi Sumsel mengikuti lokakarya yang diadakan di Hotel Aston Palembang, Kamis (18/6/2026).
Fhoto: Istimewa

Siapa yang Diuntungkan?

Sementara itu, Bonie Bangun dari HaKI Sumsel melemparkan pertanyaan tajam yang menjadi paradigma baru bagi para jurnalis: “Transisi energi memang mengubah ekonomi, tapi pertanyaannya: apakah manfaatnya dirasakan pemerintah atau justru rakyat kecil?”

Pertanyaan ini menjadi pemantik diskusi hangat di ruang lokakarya. Para peserta tampak antusias membedah kasus-kasus nyata di lapangan, mengaitkannya dengan tantangan kebijakan yang seringkali tidak berpihak pada akar rumput.

Yayasan Cerah tidak berhenti pada pelatihan. Sebanyak 8 jurnalis terpilih akan mendapatkan beasiswa liputan eksklusif untuk mendalami isu ini lebih jauh.

Mereka akan menjalani proses pendampingan (mentoring) dari para praktisi ahli untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berani, mendalam, dan memiliki dampak nyata bagi masa depan Sumatra Selatan.

Akankah transisi energi di Sumsel akan berjalan adil, atau hanya menjadi proyek elit tanpa menyentuh rakyat? Publik kini menanti hasil investigasi para jurnalis yang akan mengawal isu ini di garis depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *